Memahami Shaum Asyura





Memahami Shaum Asyura
Oleh: Abu Ismail Sidqi

(Diringkas dari tulisan Guru Kami, Ustadz Farid Nu’man Hasan, yang berjudul: Puasa Sunah ‘Asyura: Waktu dan Keutamaannya.)

Anjuran Shaum ‘Asyura
Saat memasuki bulan Muharram, ada amalan sunnah yang hendaknya diperhatikan oleh kaum muslimin. Yaitu Shaum ‘Asyura. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan amalan ini kepada umatnya, diantaranya disebutkan dalam hadits berikut ini,

إن هذا يوم عاشوراء، ولم يكتب عليكم صيامه، وأنا صائم، فمن شاء صام، ومن شاء فليفطر

“Sesungguhnya ini adalah hari ‘Asyura, dan kalian tidaklah diwajibkan shaum padanya, namun saya sedang shaum, jadi barangsiapa yang mau shaum silahkan, yang mau buka juga silahkan.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Keutamaan Shaum ‘Asyura
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Shaum Asyura sebagai shaum yang paling afdhal setelah shaum Ramadhan,

أفضل الصيام بعد شهر رمضان المحرم

“Shaum yang paling utama setelah shaum Ramadhan adalah shaum pada bulan Muharam.” (HR. Muslim No. 1163).

‘Asyura (hari ke-10 bulan Muharram) menjadi utama karena ia adalah hari bersejarah. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata,

قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة فرأى اليهود تصوم عاشوراء.
فقال: ” ما هذا؟ ” قالوا: يوم صالح، نجى الله فيه موسى وبني السرائيل من عدوهم، فصامه موسى فقال صلى الله عليه وسلم: ” أنا أحق بموسى منكم ” فصامه، وأمر بصيامه

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi melakukan shaum ‘Asyura. Beliau bertanya: ‘Apa ini?’ Mereka menjawab: ‘Ini hari baik, Allah telah menyelamatkan pada hari ini Musa dan Bani Israel dari musuh mereka, maka Musa pun melakukan shaum.’ Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Saya lebih berhak terhadap Musa dibanding kalian.’ Maka, beliau pun shaum dan memerintahkan untuk berpuasa (‘Asyura).’” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Kapankah Shaum ‘Asyura dilaksanakan?
Ada tiga pendapat ulama mengenai kapan dilaksanakannya Shaum ‘Asyura. Pendapat pertama mengatakan bahwa shaum ‘Asyura dilaksanakan pada hari ke-9 berdasarkan hadits dari  Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya,

لما صام رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عاشوراء، وأمر بصيامه، قالوا يا رسول الله: إنه يوم تعظمه اليهود والنصارى..فقال: ” إذا كان العام المقبل – إن شاء الله – صمنا اليوم التاسع “، قال: فلم يأت العام المقبل، حتى توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shaum pada hari ‘Asyura dan dia memerintahkan manusia untuk berpuasa pada hari itu, para sahabat berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani ….,” Maka beliau bersabda: ‘Jika datang tahun yang akan datang – Insya Allah- kita akan berpuasa pada hari ke-9.’ Ibnu Abbas berkata: ‘Sebelum datangnya tahun yang akan datang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat.’” (HR. Muslim No. 1134)

Pendapat yang kedua mengatakan bahwa shaum ‘Asyura dilaksanakan pada hari ke-10. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بصيام عاشوراء يوم العاشر

“Kami diperintahkan shaum ‘Asyura oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada hari ke sepuluh.” (HR. At Tirmidzi No. 755)

Pendapat ketiga mengatakan shaum ‘Asyura dilaksanakan pada hari ke 9, 10, dan 11. Berdasarkan keterangan dari  Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma secara marfu’:

صوموا يوم عاشوراء وخالفوا اليهود ، صوموا يوما قبله أو يوما بعده

“Shaumlah kalian pada hari ‘Asyura dan berselisihlah dengan Yahudi, dan berpuasalah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya.” (HR. Ahmad No. 2154, namun Syaikh Syu’aib Al Arna’uth mengatakan sanadnya dhaif).

Setelah merangkum semua dalil yang ada, Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata,
وعلى هذا فصيام عاشوراء على ثلاث مراتب : أدناها أن يصام وحده ، وفوقه أن يصام التاسع معه ، وفوقه أن يصام التاسع والحادي عشر والله أعلم .

“Oleh karena itu, puasa ‘Asyura terdiri atas tiga tingkatan: Yang paling rendah adalah shaum sehari saja (tanggal 10), tingkatan di atasnya adalah shaum hari ke-9 dan ke-10, dan tingkatan diatasnya adalah shaum hari ke-9, 10, dan ke-11. Wallahu A’lam” (Lihat: Fiqhus Sunnah, 1/450).

Diringkas dari tulisan Guru Kami, Ustadz Farid Nu’man Hasan, yang berjudul: Puasa Sunah ‘Asyura: Waktu dan Keutamaannya.

          
  
Share on Google Plus

0 comments:

Posting Komentar